Apa itu Angioedema? Berikut Penjelasannya

Angioedema adalah bentuk reaksi alergi pada kulit atau membran mukosa. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan pada lapisan kulit bagian dalam.

Kondisi bengkak yang muncul karena reaksi alergi disebut dengan angioedema, meskipun pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan bekas setelah penyembuhan. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa menyebabkan para penderitanya sulit bernapas karena munculnya pembengkakan yang terjadi di saluran pernapasan manusia.

Kondisi bengkak yang muncul karena reaksi alergi disebut dengan angioedema, meskipun pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan bekas setelah penyembuhan.. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa menyebabkan para penderitanya sulit bernapas karena munculnya pembengkakan yang terjadi di saluran pernapasan manusia.

Dalam beberapa kasus, penderita penyakit ini juga mengalami urtikaria atau juga disebut dengan biduran. Kedua kondisi ini memang terlihat sama, yang membedakan pada penyakit ini adalah terjadi di lapisan bawah kulit. Sementara, bengkak pada biduran muncul dan terjadi di permukaan kulit manusia.

Gejala Angioedema

Gejala utama yang muncul pada seseorang penderita penyakit ini adalah bengkak yang muncul di bawah permukaan kulit. Munculnya pembengkakan ini disebabkan karena adanya penumpukan cairan di lapisan kulit bagian dalam, selain itu juga bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh lain seperti area sekitar mata, lidah, tangan, kaki dan kelamin.

Dalam kasus yang sudah parah, pembengkakan ini juga bisa terjadi pada bagian dalam tenggorokan dan perut. Kondisi yang muncul biasanya tidak menimbulkan gatal, namun pada kondisi idiopathic dan allergic, bengkak yang muncul akan disertai dengan biduran atau urtikaria yang menjadi penyebab munculnya rasa gatal, berikut beberapa gejala lain yang bisa muncul.

  • Merasakan sensasi panas dan nyeri, tepat pada area yang mengalami pembengkakan.
  • Mengalami sesak napas, yang diakibatkan karena pembengkakan di tenggorokan dan paru-paru.
  • Kondisi mata memerah, hal ini diakibatkan karena adanya pembengkakan di konjungtiva.

Jenis Angioedema

  • Allergic

Seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini disebabkan karena alergi terhadap beberapa bahan tertentu, seperti makanan terutama kacang, kerang, susu dan telur. Kemudian alergi obat, seperti antibiotik, aspirin dan antiinflamasi nonsteroid. Lalu alergi terhadap gigitan serangga, seperti lebah dan alergi pada lateks atau sejenis karet bahan sarung tangan karet.

  • Drug-Induced

Kondisi pembengkakan ini muncul karena seseorang menggunakan obat tertentu meskipun tidak memiliki alergi obat. Bengkak yang muncul biasanya sesaat setelah penggunaan obat, tetapi juga bisa muncul dalam beberapa bulan hingga tahun setelah penggunaan obat. 

Beberapa jenis obat penyebab kondisi ini seperti obat antiinflamasi nonsteroid, obat hipertensi golongan ACE seperti ramipril, perindopril dan lisinopril, serta obat hipertensi golongan ARB seperti valstartan, losartan dan irbesartan.

  • Hereditary

Pembengkakan jenis ini disebabkan karena seseorang kekurangan protein penghambat C1-esterase di dalam darah. Protein ini berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh, jika seseorang kekurangan protein ini maka sistem imun akan berbalik menyerang tubuh dan menimbulkan gejala pembengkakan.

Kondisi ini disebabkan beberapa hal yang berhubungan dengan perilaku seseorang, seperti mengalami depresi atau stres, kemudian akibat prosedur bedah atau perawatan gigi, penggunaan pil KB, kehamilan hingga seseorang mengalami cedera atau infeksi. Namun, seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini berisiko menurunkan penyakit ini ke anaknya.

  • Idiopathic

Terlepas dari faktor yang dijelaskan di atas, sebagian besar kasus angioedema tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, para ahli memiliki dugaan bahwa kondisi tersebut muncul karena adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Beberapa penyebab yang membuat munculnya idiopathic adalah seperti stres, mengenakan pakaian berat dan olahraga terlalu berat.

Selain itu, cuaca atau iklim yang terlalu panas juga bisa menjadi penyebab munculnya pembengkakan tersebut. Tak hanya itu, konsumsi alkohol, kafein dan makanan pedas serta kondisi medis seperti lupus atau limfoma meski sangat jarang bisa menjadi penyebab munculnya idiopathic ini.

Kondisi bengkak yang muncul karena reaksi alergi disebut dengan angioedema, meskipun pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan bekas setelah penyembuhan.. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa menyebabkan para penderitanya sulit bernapas karena munculnya pembengkakan yang terjadi di saluran pernapasan manusia.

Dalam beberapa kasus, penderita penyakit ini juga mengalami urtikaria atau juga disebut dengan biduran. Kedua kondisi ini memang terlihat sama, yang membedakan pada penyakit ini adalah terjadi di lapisan bawah kulit. Sementara, bengkak pada biduran muncul dan terjadi di permukaan kulit manusia.

Gejala Angioedema

Gejala utama yang muncul pada seseorang penderita penyakit ini adalah bengkak yang muncul di bawah permukaan kulit. Munculnya pembengkakan ini disebabkan karena adanya penumpukan cairan di lapisan kulit bagian dalam, selain itu juga bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh lain seperti area sekitar mata, lidah, tangan, kaki dan kelamin.

Dalam kasus yang sudah parah, pembengkakan ini juga bisa terjadi pada bagian dalam tenggorokan dan perut. Kondisi yang muncul biasanya tidak menimbulkan gatal, namun pada kondisi idiopathic dan allergic, bengkak yang muncul akan disertai dengan biduran atau urtikaria yang menjadi penyebab munculnya rasa gatal, berikut beberapa gejala lain yang bisa muncul.

  • Merasakan sensasi panas dan nyeri, tepat pada area yang mengalami pembengkakan.
  • Mengalami sesak napas, yang diakibatkan karena pembengkakan di tenggorokan dan paru-paru.
  • Kondisi mata memerah, hal ini diakibatkan karena adanya pembengkakan di konjungtiva.

Jenis Angioedema

  • Allergic

Seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini disebabkan karena alergi terhadap beberapa bahan tertentu, seperti makanan terutama kacang, kerang, susu dan telur. Kemudian alergi obat, seperti antibiotik, aspirin dan antiinflamasi nonsteroid. Lalu alergi terhadap gigitan serangga, seperti lebah dan alergi pada lateks atau sejenis karet bahan sarung tangan karet.

  • Drug-Induced

Kondisi pembengkakan ini muncul karena seseorang menggunakan obat tertentu meskipun tidak memiliki alergi obat. Bengkak yang muncul biasanya sesaat setelah penggunaan obat, tetapi juga bisa muncul dalam beberapa bulan hingga tahun setelah penggunaan obat. 

Beberapa jenis obat penyebab kondisi ini seperti obat antiinflamasi nonsteroid, obat hipertensi golongan ACE seperti ramipril, perindopril dan lisinopril, serta obat hipertensi golongan ARB seperti valstartan, losartan dan irbesartan.

  • Hereditary

Pembengkakan jenis ini disebabkan karena seseorang kekurangan protein penghambat C1-esterase di dalam darah. Protein ini berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh, jika seseorang kekurangan protein ini maka sistem imun akan berbalik menyerang tubuh dan menimbulkan gejala pembengkakan.

Kondisi ini disebabkan beberapa hal yang berhubungan dengan perilaku seseorang, seperti mengalami depresi atau stres, kemudian akibat prosedur bedah atau perawatan gigi, penggunaan pil KB, kehamilan hingga seseorang mengalami cedera atau infeksi. Namun, seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini berisiko menurunkan penyakit ini ke anaknya.

  • Idiophatic

Terlepas dari faktor yang dijelaskan di atas, sebagian besar kasus angioedema tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, para ahli memiliki dugaan bahwa kondisi tersebut muncul karena adany gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Beberapa penyebab yang membuat munculnya idiophatic adalah seperti stres, mengenakan pakaian berat dan olahraga terlalu berat.

Selain itu, cuaca atau iklim yang terlalu panas juga bisa menjadi penyebab munculnya pembengkakan tersebut. Tak hanya itu, konsumsi alkohol, kafein dan makanan pedas serta kondisi medis seperti lupus atau limfoma meski sangat jarang bisa menjadi penyebab munculnya idiophatic ini.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*