Ciri-Ciri pistanthrophobia

Pistanthrophobia adalah fobia akan disakiti oleh seseorang dalam hubungan romantis.

Fobia sendiri adalah jenis gangguan kecemasan yang muncul sebagai ketakutan yang terus-menerus, tidak rasional, dan berlebihan tentang seseorang, aktivitas, situasi, hewan, atau objek.

Pistanthrophobia adalah rasa takut mempercayai orang lain dan sering kali merupakan akibat dari mengalami kekecewaan yang serius atau akhir yang menyakitkan dari hubungan sebelumnya.

Jadi, bagaimana Anda tahu jika Anda adalah orang yang memiliki fobia ini? Berikut beberapa ciri pistanthrophobia:

  • Berasumsi bahwa setiap orang yang Anda temui akan menyakiti Anda

Anda tampak berpikir bahwa setiap orang di dunia ini jahat dan mereka semua berniat untuk menyakiti Anda.

  • Merasa tidak mungkin memiliki hubungan yang bisa membuat Anda bahagia

Seolah-olah Anda selalu mengharapkan sesuatu yang tidak beres, Anda selalu mencari hal-hal untuk dikecewakan. Seperti Anda yakin bahwa kebahagiaan adalah kemustahilan yang benar-benar tidak dapat dicapai karena banyak hal buruk yang telah terjadi dalam hidup Anda.

  • Selalu curiga terhadap orang yang Anda temui

Anda selalu berpikir bahwa orang yang Anda temui tidak tulus.  

  • Meragukan apa pun yang dikatakan orang lain

Otak Anda secara alami cenderung menganggap semua yang dikatakan orang lain kepada Anda sebagai kebohongan. Sehingga Anda hanya memperlakukan setiap orang sebagai individu yang tidak jujur.

  • Cemburu, bahkan untuk hal-hal kecil

Anda merasa begitu tidak aman tentang tempat Anda dalam sebuah hubungan romantis, sehingga Anda menjadi sangat mudah cemburu.

  • Menginginkan kepastian secara terus-menerus dalam hubungan Anda

Anda selalu butuh pasangan Anda untuk mengingatkan Anda betapa mereka mencintai Anda. Anda selalu meminta mereka untuk memberi tahu Anda bahwa mereka tidak akan menyakiti Anda.

  • Menuntut terlalu banyak dan terlalu cepat dalam hubungan

Anda cenderung ingin menguncinya sehingga Anda tahu bahwa dia tidak akan pernah menyakiti atau meninggalkan Anda.  

Seperti fobia lainnya, pistanthrophobia biasanya dipicu oleh seseorang atau peristiwa dalam kehidupan Anda.

Banyak orang memiliki pengalaman buruk dengan hubungan masa lalu di mana mereka merasa sangat terluka, dikhianati, atau ditolak. Akibatnya, mereka hidup dalam ketakutan akan pengalaman serupa, yang menyebabkan mereka menghindari semua hubungan.

Mengatasi masalah mendasar yang memicu fobia mungkin merupakan hal yang tidak nyaman, namun pada saatnya Anda dapat mempelajari cara baru untuk mempercayai orang dan memasuki hubungan yang sehat.

Fobia seperti pistanthrophobia dapat mengganggu kemampuan Anda untuk menjalin hubungan asmara dengan orang lain. Oleh karena itu, segera berkonsultasi dengan dokter jika Anda merasa memiliki fobia ini.

Read More
Kesehatan Mental

Suka Menimbun Barang Tak Terpakai? Hati-hati, Bisa Jadi Gejala Gangguan Mental

Saat membersihkan rumah yang berantakan dan menemukan barang yang tidak digunakan, pernahkah Anda meyakinkan diri untuk tidak membuang benda tersebut dengan pernyataan “lain kali bisa digunakan” atau “mungkin masih perlu”?

Wajar jika Anda melontarkan pernyataan demikian saat sedang membereskan rumah yang berantakan. Ketika Anda mempraktikkan metode Konmari yang sedang populer belakangan ini, Anda harus menyortir barang-barang dan menyingkirkan yang tidak memancarkan kebahagiaan untuk Anda.

Sayangnya, berlawanan dari teknik beberes Konmari ini, Anda mungkin cenderung merasa sayang untuk membuang barang-barang yang Anda miliki dan berujung menumpuk semuanya.

Namun, Anda harus berhati-hati karena terkadang menumpuk atau menyimpan barang-barang bekas dan rusak secara berlebihan merupakan indikasi dari suatu gangguan mental. Kondisi ini disebut sebagai hoarding disorder.

Barang-barang yang disimpan oleh para hoarder (sebutan untuk orang yang memiliki hoarding disorder) biasanya tidak memiliki nilai jual dan jumlahnya cukup banyak. Gangguan mental ini mulai menjadi masalah saat tumpukan-tumpukan barang-barang bekas dan rusak yang dikumpulkan mulai menyita banyak ruang di rumah dan membuat rumah berantakan.

Tidak hanya itu, gangguan mental ini juga dapat merusak hubungan penderita dengan orang-orang di sekitarnya. Penting bagi Anda untuk dapat mengenali ciri-ciri dari gangguan mental ini.

Gejala Hoarding Disorder

  1. Menimbun barang-barang yang tidak memiliki nilai jual secara berlebihan, meskipun sudah tidak ada ruang lagi untuk menyimpan barang-barang tersebut.

  2. Memiliki kesulitan untuk mengatur barang-barang yang sudah disimpan dan cenderung menimbun barang-barang tersebut menjadi suatu tumpukan ketika sudah tidak ada ruang lagi untuk menyimpan barang-barang tersebut.

  3. Memiliki keyakinan bahwa barang-barang yang ditimbun akan berguna nantinya, meskipun barang-barang tersebut tidak digunakan dan tidak bernilai.

  4. Memiliki ikatan yang kuat dengan barang-barang yang ditumpuk dan bahkan cenderung bisa marah jika seseorang menyentuh atau ingin meminjam barang tersebut.

  5. Kesulitan untuk membuang barang-barang yang ditumpuk dan merasa kesal jika harus membuang barang-barang tersebut.
  6. Barang-barang yang ditumpuk memenuhi rumah dan membuat orang-orang kesulitan untuk bergerak dalam rumah.

Namun, perlu untuk Anda perhatikan, penderita hoarding disorder tidak hanya menimbun benda-benda rusak ataupun bekas yang tidak berguna. Penderita bisa saja menimbun benda-benda yang masih baru, seperti peralatan masak, pakaian, buku-buku, dan sebagainya. Hoarder juga bisa memelihara banyak sekali binatang seperti kucing atau anjing padahal dirinya tidak sanggup lagi menampung.

Pada umumnya, penderita hoarding disorder memiliki pemikiran-pemikiran sebagai berikut:

  • Tidak ingin membuang-buang barang.
  • Percaya bahwa barang yang dimiliki unik atau bisa digunakan nantinya.
  • Merasa aman bersama barang-barang tersebut.
  • Barang-barang yang dikumpulkan memiliki kenangan emosional dan berfungsi sebagai “pengingat” bagi penderita.

Penyebab Hoarding Disorder

Penyebab dari hoarding disorder belum diketahui, tetapi kemungkinan kondisi ini diakibatkan oleh ketidakmampuan mengatasi stres. Misalnya saat ditinggalkan orang yang disayangi, kehilangan rumah, mengalami trauma, menjadi korban bullying, dan sebagainya.

Kadang-kadang hoarding disorder ini bisa jadi gejala dari gangguan mental lainnya, seperti skizofrenia.

Penanganan Hoarding Disorder

Penderita hoarding disorder biasanya akan diberikan psikoterapi, obat-obatan, atau campuran dari keduanya. Oleh karena itu, jika kerabat atau teman dekat Anda memiliki hoarding disorder, Anda perlu untuk merujuk teman atau kerabat Anda ke psikolog atau psikiater.

Jika Anda mengalami hoarding disorder, Anda tidak perlu malu untuk ke psikolog atau psikiater. Setelah berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater, Anda dapat melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Tetap mengikuti perawatan yang sudah diberikan

Mengubah diri menjadi lebih baik hal memang tidak mudah, tetapi Anda harus tetap termotivasi untuk bisa mengurangi keinginan menimbun barang. Selalu ingatkan diri sendiri bahwa Anda tidak ingin menjadi stres karena tinggal dalam rumah yang berantakan.

  1. Mencari bantuan dan menerima bantuan dari orang lain

Jangan sungkan untuk meminta dan menerima bantuan dari orang lain dalam mengatur barang-barang di rumah. Anda juga dapat menceritakan tentang kesulitan Anda dengan orang-orang terdekat dan meminta dukungan dari mereka.

  1. Jaga kesehatan diri Anda

Jangan lupa untuk makan teratur dan memerhatikan kebersihan diri Anda.

  1. Fokus pada langkah-langkah kecil

Anda tidak perlu terlalu menekan diri dengan ingin secepatnya lepas dari gangguan hoarding Ingatkan diri Anda bahwa ini adalah suatu proses yang membutuhkan waktu.

Fokuslah pada tujuan-tujuan kecil yang lama kelamaan mengarahkan Anda menjadi lebih baik dan dapat menaklukkan hoarding disorder yang dialami.

Read More