Penyakit

Mengenal Kondisi Medis Hiperprolaktinemia

Prolaktin merupakan hormon yang diproduksi di kelenjar pituitary. Hormon ini dapat membantu menstimulasi dan menjaga produksi ASI. Hiperprolaktinemia dapat dideskripsikan sebagai kelebihan hormon prolactin di dalam tubuh seseorang. Memiliki hiperprolaktinemia merupakan hal yang normal saat hamil atau saat dalam menyusui. Namun, beberapa jenis kondisi medis tertentu dan penggunaan obat-obatan khusus juga dapat menyebabkan hiperprolaktinemia pada siapa saja. Penyebab dan efek level prolactin yang tinggi bervariasi, tergantung pada jenis kelamin seseorang. Artikel ini akan membahas hal-hal seputar hiperprolaktinemia dengan lebih mendetail.

Penyebab dan gejala

Peningkatan level prolactin dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Biasanya, hiperprolaktinemia disebabkan karena kehamilan, yang mana merupakan sebuah kondisi normal. Menurut sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2013, tumor pituitary menjadi penyebab sekitar 50 persen hiperprolaktinemia. Prolaktinoma merupakan sebuah tumor yang terbentuk di kelenjar pituitary. Tumor ini umumnya bersifat non-kanker, namun dapat menyebabkan gejala yang berbeda tergantung pada jenis kelamin penderita. Penyebab lain hiperprolaktinemia adalah penghambat H2 asam seperti cimetidine, obat-obatan antihipersensitif seperti verapamil, estrogen, obat-obatan antidepresan seperti desipramine dan clomipramine, sirosis atau jaringan parut di hati, sindrom Cushing yang terbentuk akibat tingginya level hormon kortisol, infeksi atau tumor pada hypothalamus, dan obat-obatan anti mual seperti metoclopramide.

Gejala hiperprolaktinemia berbeda pada pria dan wanita. Mengingat level prolactin memengaruhi produksi susu dan siklus menstruasi, sulit mendeteksi kondisi ini pada pria. Apabila seorang pria mengalami disfungsi ereksi, dokter akan merekomendasikan tes darah untuk melihat apakah ada prolactin berlebih. Sementara itu, gejala pada wanita di antaranya adalah kemandulan, menstruasi yang tidak teratur, perubahan aliran menstruasi, berhentinya siklus menstruasi, hilangnya birahi, laktasi (galactorrhea), rasa nyeri pada payudara, dan vagina yang kering. Pada pria, gejala hiperprolaktinemia di antaranya adalah pertumbuhan payudara tidak normal (gynecomastia), laktasi, kemandulan, disfungsi ereksi, hilangnya gairah seksual, sakit kepala, dan perubahan kemampuan melihat.

Diagnosa dan perawatan

Untuk mendiagnosa hiperprolaktinemia, dokter akan melakukan tes darah untuk memeriksa level prolactin. Apabila level prolactin tinggi, dokter akan memeriksa kondisi lain. Jika dokter mencurigai adanya tumor, mereka akan melakukan tes pemindaian MRI guna menentukan apakah ada tumor pituitary yang menjadi penyebab utamanya.

Perawatan hiperprolaktinemia umumnya berfokus dalam mengembalikan prolactin pada angka yang normal. Dalam kasus adanya tumor di tubuh, tindakan bedah medis dapat dibutuhkan untuk mengangkat prolactinoma, namun kondisi tersebut sering dapat diatasi hanya dengan penggunaan obat-obatan saja. Selain operasi, pilihan perawatan hiperprolaktinemia di antaranya adalah radiasi, hormon thyroid sintetis, perubahan obat-obatan, dan obat-obatan untuk mengurangi prolactin seperti bromocriptine atau cabergoline. Obat-obatan biasanya dapat berfungsi dengan efektif pada orang-orang yang menderita prolactinoma dan dapat ditoleransi dengan baik. Bromocriptine perlu dikonsumsi 2-3 kali sehari sementara cabergoline bertindak dalam jangka waktu yang lama dan digunakan 2 kali setiap minggu. Operasi untuk mengangkat tumor akan dilakukan apabila obat-obatan tersebut di atas tidak terbukti efektif dalam mengatasi hiperprolaktinemia. Selain itu, operasi dibutuhkan apabila tumor memengaruhi kemampuan melihat seseorang. Jika obat-obatan dan operasi tidak efektif, meskipun kondisi ini jarang terjadi, radiasi untuk memperkecil tumor dapat dilakukan.

Biasanya, hiperprolaktinemia dapat dirawat dan diobati. Jenis perawatan akan bergantung pada apa yang menyebabkan pengeluaran prolactin berlebih. Apabila Anda memiliki tumor, operasi untuk mengangkat tumor tersebut dapat dilakukan guna mengembalikan kelenjar pituitary pada kondisi yang normal.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*