Menilik Mati Suri dari Kacamata Medis

Istilah mati suri sebenarnya bukanlah suatu hal asing yang belum pernah sama sekali didengar. Seseorang yang mengalami mati suri, akan kembali hidup setelah ia dinyatakan meninggal dunia, itulah pengertian mati suri yang biasanya dikenal di kalangan masyarakat. Namun, bagaimana konsep mati suri sebenarnya dalam dunia medis?

mati suri

Dalam dunia medis, mati suri dikenal dengan Lazarus syndrome yang berarti kembalinya sirkulasi spontan yang tertentu setelah dilakukan tindakan CPR. Meski begitu, teori Lazarus syndrome ini tetap menimbulkan pertanyaan besar. Di bawah ini, terdapat beberapa teori yang diyakini berkaitan erat dan mampu menjelaskan fenomena mati suri pada manusia.

Mati suri dari segi medis

Telah disebutkan sebelumnya, bahwa istilah Lazarus syndrome mengacu pada kembalinya sirkulasi spontan yang sebelumnya tertunda setelah seseorang telah diberikan resusitasi jantung paru atau CPR. Kata Lazarus itu sendiri diambil dari nama Lazarus, seorang Betania dalam Alkitab, yang diyakini dibangkitkan kembali oleh Yesus setelah empat hari dinyatakan meninggal dunia.

Para ahli meyakini, bahwa jumlah fenomena mati suri yang sebenarnya terjadi, lebih besar dibanding dengan data yang dilaporkan.

Beberapa kemungkinan penyebab terjadinya mati suri pada manusia, antara lain:

  • Lazarus syndrome

Para ahli menjelaskan bahwa Lazarus syndrome terjadi saat ada akumulasi tekanan pada dada setelah tindakan CPR dilakukan. Ketika CPR dihentikan, tekanan akan berkurang, sehingga fungsi kerja jantung dapat kembali normal. Kondisi ini berpeluang menjadi penyebab mengapa seseorang dapat tersadarkan kembali.

Ada juga kemungkinan lain, ketika obat yang diberikan melalui pembuluh darah perifer tidak tersalurkan secara sempurna. Setelah pembuluh darah kembali pada ukuran semula, obat baru dapat tersalurkan dengan baik dan akhirnya menyebabkan orang tersebut tersadarkan kembali.

  • Kondisi medis

Dunia medis mengenali dua jenis kematian, yaitu kematian klinis dan biologis. Kematian klinis merujuk pada kondisi ketika tidak ada detak jantung dan napas pada seseorang. Di sisi lain, kematian biologis merujuk pada tidak adanya aktivitas pada otak manusia.

Walaupun begitu, diagnosis kematian klinis pada manusia terbilang cukup rumit. Terdapat beberapa kondisi medis yang dapat membuat seseorang seolah-olah telah meninggal dunia, namun pada kenyataannya masih hidup.

  • Hipotermia

Istilah hipotermia terjadi ketika tubuh mengalami penurunan temperatur ekstrem akibat suhu dingin di sekitarnya. Seseorang yang mengalami hipotermia menyebabkan detak jantung dan napas seseorang melambat, hingga di suatu titik tertentu tidak dapat terdeteksi lagi. Pada kondisi itulah, seseorang dianggap telah meninggal dunia.

Di samping itu, sirkulasi darah seseorang yang mengalami hipotermia akan terhenti. Namun, fungsi kerja saraf masih bekerja.

Antara kematian klinis dan biologis

Kematian klinis merujuk pada kondisi ketika jantung dan napas seseorang tidak lagi bekerja. Kematian klinis pada kenyataannya dapat dikembalikan. Ketika seseorang mengalami serangan jantung dan diberikan tindakan CPR, terdapat peluang yang cukup menjanjikan dalam menyelamatkan nyawa orang yang bersangkutan.

Sementara itu, kematian biologis merujuk pada kondisi ketik otak manusia tidak bekerja lagi. Memang, secara medis tubuh dapat tetap berfungsi walau otak manusia dinyatakan sudah mati, karena jantung dapat bekerja tanpa ada intervensi dari otak.

Secara garis besar, kematian klinis merupakan alasan paling logis mengapa fenomena mati suri dapat terjadi.

Leave a Reply

Comment
Name*
Mail*
Website*