Penyakit

Lakukan Tes Mata Minus Apabila Memiliki Gejala Ini

Mata minus, atau dalam istilah kedokteran dikenal dengan sebutan miopia, merupakan sebuah gangguan penglihatan yang ditandai dengan ketidakmampuan melihat objek atau benda yang jauh (pandangan terlihat kabur atau buram) namun Anda bisa melihat benda-benda yang dekat. Mata minus ini terjadi ketika bentuk mata Anda menyebabkan cahaya berbelok atau terbiasa dengan tidak tepat, dan memfokuskan gambar tepat di depan retina (alih-alih pada retina). Mata minus dapat berkembang secara perlahan dan cepat, biasanya berubah semakin memburuk saat anak tumbuh biasa. Kondisi ini juga dapat diwariskan dalam keluarga. Dalam arti, apabila orang tua memiliki mata minus, ada kemungkinan anak juga akan menderita kondisi serupa. Tes mata minus dapat mengkonfirmasi myopia. Setelah tes dilakukan dan dikonfirmasi Anda menderita mata minus, penggunaan kacamata atau lensa kontak dapat membantu Anda melihat dengan lebih jelas. Dalam beberapa kasus, operasi refraksi juga dapat dilakukan untuk mengatasi mata minus. 

Lakukan tes mata minus apabila Anda mengalami gejala-gejala seperti sakit kepala yang disebabkan karena ketegangan mata, kesulitan melihat saat mengendarai kendaraan bermotor (terutama pada malam hari), Anda perlu memicingkan mata untuk dapat melihat dengan lebih jelas, dan pandangan yang kabur saat melihat objek di kejauhan. Apabila gangguan penglihatan mengganggu aktivitas sehari-hari, kunjungi dokter mata. Dokter dapat menentukan tingkat keparahan mata minus dan merekomendasikan pilihan perawatan untuk mengatasi gangguan penglihatan Anda. 

Pemeriksaan mata yang teratur

Karena gejala gangguan penglihatan kadang tidak diketahui hingga miopia bertambah parah, Akademi Ilmu Kesehatan Mata Amerika merekomendasikan pemeriksaan mata yang teratur. 

  • Dewasa

Apabila Anda berisiko tinggi menderita penyakit mata seperti glaucoma, dapatkan tes mata minus setiap satu atau dua tahun sekali, saat Anda berusia 40 tahun. Apabila Anda tidak memakai kacamata atau lensa kontak, tidak memiliki gejala gangguan penglihatan apapun, dan memiliki risiko yang rendah menderita penyakit mata seperti glaukoma, dapatkan pemeriksaan mata setiap 5 hingga 10 tahun sekali saat Anda berusia 20-30 tahun, dua hingga 4 tahun sekali saat berusia 40-54 tahun, setiap satu hingga tiga tahun sekali saat usia 55-64 tahun, dan setiap 1-2 tahun sekali saat Anda berusia lebih dari 65 tahun. 

Apabila Anda memakai kacamata atau lensa kontak dan memiliki gangguan kesehatan yang memengaruhi mata, misalnya diabetes, Anda perlu memeriksakan mata dengan lebih teratur. Bertanyalah pada dokter berapa sering Anda perlu memeriksakan diri. Jika gejala yang memengaruhi kualitas pandangan muncul, segeralah periksakan diri. Pandangan yang kabur dapat menunjukkan bahwa Anda perlu mengganti kacamata atau sebagai tanda adanya masalah penglihatan lain. 

  • Anak-anak dan remaja

Anak dan remaja perlu mendapatkan pemeriksaan penyakit mata dan tes mata minus oleh dokter saat ia berusia 6 bulan, 3 tahun, dan sebelum tahun pertama masuk sekolah. 

Tes mata minus akan menunjukkan penyebab miopia. Salah satu penyebab utama adalah kesalahan refraksi. Apabila kornea atau lensa Anda tidak melengkung secara merata dan halus, sinar cahaya tidak dibiaskan dengan benar dan Anda akan memiliki kesalahan atau error refraksi. Mata minus biasanya terjadi ketika bola mata lebih panjang dari normal atau kornea Anda terlalu melengkung. Alih-alih terfokus dengan tepat di retina, cahaya difokuskan di depan retina, sehingga menyebabkan tampilan benda di kejauhan yang buram atau kabur. Beberapa faktor risiko dapat meningkatkan kemungkinan seseorang menderita mata minus, yaitu faktor genetik dan kondisi lingkungan.

Read More
Penyakit

Suka Pakai Salep Antibiotik? Jangan untuk Kondisi Ini

Antibiotik tidak hanya tersedia untuk penggunaan secara oral. Penggunaan antibiotik untuk dioleskan pada luka pun tersedia dalam bentuk salep. Salep antibiotik umumnya digunakan sebagai pertolongan pertama guna mencegah infeksi yang disebabkan oleh masuknya bakteri pada daerah tubuh yang terluka. 

Anda bisa mendapatkan salep antibiotik di mana saja. Jangan heran ketika hendak membelinya di apotek, apoteker mungkin akan bertanya jenis salep antibiotik apa yang Anda butuhkan. Setidaknya, ada tiga jenis salep antibiotik yang umum diperjualbelikan. 

  1. Bacitracin 

Ini merupakan jenis salep antibiotik yang paling sering digunakan. Bacitracin ditujukan untuk mencegah infeksi pada luka ringan di kulit. 

  1. Polisporin 

Polisporin juga umum digunakan sebagai obat luar pada luka. Pemakaian salep antibiotik ini bertujuan mencegah terjadinya infeksi pada area luka dengan cara menghentikan pertumbuhan bakteri di area tersebut. 

  1. Neosporin 

Neosporin sebenarnya ampuh untuk mematikan bakteri pada area luka sehingga bisa mencegah terjadinya infeksi. Akan tetapi, jenis salep antibiotik ini jarang diresepkan oleh dokter karena cenderung menimbulkan reaksi alergi bagi penggunanya. 

Salep antibiotik bisa Anda gunakan untuk mengobati berbagai luka yang ada di kulit. Namun ketika menggunakannya, Anda juga tidak bisa sembarangan. Penggunaan pada jenis luka tertentu justru bisa memperparah kondisi tubuh Anda sekaligus memicu terjadinya infeksi. Berikut ini adalah jenis luka yang pantang diobati menggunakan salep antibiotik. 

  • Luka Besar 

Apabila ukuran luka Anda berdiameter cukup besar, mungkin lebih dari 2 sentimeter, baiknya tidak mengandalkan salep antibiotik untuk mengobatinya. Luka yang besar menandakan sudah mulai terjadinya infeksi yang disebabkan oleh bakteri. Penggunaan salep antibiotik justru dapat memperparahnya. 

  • Luka yang Terus Berdarah 

Pernah tidak Anda mengalami luka yang terus mengalirkan darah? Jika pernah dan mengalaminya lagi, baiknya Anda mencari cara pengobatan lain selain menggunakan salep antibiotik. Pasalnya, darah yang terus mengalir membuat area luka tidak steril dan bisa menyebabkan komplikasi jika Anda memaksakan penggunan antibiotik untuk mengobatinya. Anda baru bisa mengoleskan salep ke area luka apabila darah sudah berhenti. 

  • Luka Dalam 

Luka dalam memerlukan perawatan yang lebih serius. Anda tidak bisa mengandalkan salep antibiotik untuk mengobatinya. Ini karena jenis salep tersebut hanya sebagai pertolongan pertama. Baiknya jika mengalami luka dalam, Anda segera ke dokter untuk memperoleh penanganan yang lebih tepat. 

  • Luka Bakar 

Berhati-hati pulalah menggunakan salep antibiotik pada luka bakar. Tidak semua luka bakar cocok ditangani dengan antibiotik. Pasalnya, ketika luka bakar cukup besar dan dalam hingga merusak jaringan lapisan kulit, bakteri sudah terlanjur masuk dan menginfeksi sehingga tidak mampu ditangani oleh salep antibiotik. 

  • Gigitan Hewan 

Apakah bisa salep antibiotik mengobati luka yang disebabkan oleh gigitan hewan, seperti dari serangga bahkan gigitan anjing? Jawabannya, tidak! Gigitan hewan cenderung mengandung virus yang tidak bisa ditangani oleh antibiotik. Anda baiknya segera berkonsultasi ke dokter apabila mengalami luka akibat gigitan hewan. 

  • Cedera Mata 

Mata merupakan bagian tubuh yang sangat sensitif. Pemberian benda asing bisa saja merusak organ mata Anda, mungkin termasuk salep antibiotik. Jangan pernah berpikir untuk mengoleskan salep antibiotik ke mata Anda ketika mengalami cedera di dekat area mata. Pasalnya, risiko kerusakan mata bisa mengintai sangat dekat. 

  • Luka Robek Besar 

Ada beberapa jenis luka robek yang menyebabkan kulit menganga lebar. Kondisi ini mesti ditangani dengan menjahit area luka agar tertutup sempurna. Anda tidak bisa mengandalkan penggunaan salep antibiotik untuk jenis luka yang satu ini. 

*** 

Anda bisa saja menyediakan salep antibiotik di rumah sebagai bahan pertolongan awal jika terjadi luka pada Anda maupun keluarga. Namun, jika memang kondisi luka tidak bisa ditangani dengan antibiotik, baiknya Anda segera memeriksakan diri ke dokter.

Read More
Penyakit

Mengenal Kondisi Medis Hiperprolaktinemia

Prolaktin merupakan hormon yang diproduksi di kelenjar pituitary. Hormon ini dapat membantu menstimulasi dan menjaga produksi ASI. Hiperprolaktinemia dapat dideskripsikan sebagai kelebihan hormon prolactin di dalam tubuh seseorang. Memiliki hiperprolaktinemia merupakan hal yang normal saat hamil atau saat dalam menyusui. Namun, beberapa jenis kondisi medis tertentu dan penggunaan obat-obatan khusus juga dapat menyebabkan hiperprolaktinemia pada siapa saja. Penyebab dan efek level prolactin yang tinggi bervariasi, tergantung pada jenis kelamin seseorang. Artikel ini akan membahas hal-hal seputar hiperprolaktinemia dengan lebih mendetail.

Penyebab dan gejala

Peningkatan level prolactin dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Biasanya, hiperprolaktinemia disebabkan karena kehamilan, yang mana merupakan sebuah kondisi normal. Menurut sebuah studi yang dilakukan pada tahun 2013, tumor pituitary menjadi penyebab sekitar 50 persen hiperprolaktinemia. Prolaktinoma merupakan sebuah tumor yang terbentuk di kelenjar pituitary. Tumor ini umumnya bersifat non-kanker, namun dapat menyebabkan gejala yang berbeda tergantung pada jenis kelamin penderita. Penyebab lain hiperprolaktinemia adalah penghambat H2 asam seperti cimetidine, obat-obatan antihipersensitif seperti verapamil, estrogen, obat-obatan antidepresan seperti desipramine dan clomipramine, sirosis atau jaringan parut di hati, sindrom Cushing yang terbentuk akibat tingginya level hormon kortisol, infeksi atau tumor pada hypothalamus, dan obat-obatan anti mual seperti metoclopramide.

Gejala hiperprolaktinemia berbeda pada pria dan wanita. Mengingat level prolactin memengaruhi produksi susu dan siklus menstruasi, sulit mendeteksi kondisi ini pada pria. Apabila seorang pria mengalami disfungsi ereksi, dokter akan merekomendasikan tes darah untuk melihat apakah ada prolactin berlebih. Sementara itu, gejala pada wanita di antaranya adalah kemandulan, menstruasi yang tidak teratur, perubahan aliran menstruasi, berhentinya siklus menstruasi, hilangnya birahi, laktasi (galactorrhea), rasa nyeri pada payudara, dan vagina yang kering. Pada pria, gejala hiperprolaktinemia di antaranya adalah pertumbuhan payudara tidak normal (gynecomastia), laktasi, kemandulan, disfungsi ereksi, hilangnya gairah seksual, sakit kepala, dan perubahan kemampuan melihat.

Diagnosa dan perawatan

Untuk mendiagnosa hiperprolaktinemia, dokter akan melakukan tes darah untuk memeriksa level prolactin. Apabila level prolactin tinggi, dokter akan memeriksa kondisi lain. Jika dokter mencurigai adanya tumor, mereka akan melakukan tes pemindaian MRI guna menentukan apakah ada tumor pituitary yang menjadi penyebab utamanya.

Perawatan hiperprolaktinemia umumnya berfokus dalam mengembalikan prolactin pada angka yang normal. Dalam kasus adanya tumor di tubuh, tindakan bedah medis dapat dibutuhkan untuk mengangkat prolactinoma, namun kondisi tersebut sering dapat diatasi hanya dengan penggunaan obat-obatan saja. Selain operasi, pilihan perawatan hiperprolaktinemia di antaranya adalah radiasi, hormon thyroid sintetis, perubahan obat-obatan, dan obat-obatan untuk mengurangi prolactin seperti bromocriptine atau cabergoline. Obat-obatan biasanya dapat berfungsi dengan efektif pada orang-orang yang menderita prolactinoma dan dapat ditoleransi dengan baik. Bromocriptine perlu dikonsumsi 2-3 kali sehari sementara cabergoline bertindak dalam jangka waktu yang lama dan digunakan 2 kali setiap minggu. Operasi untuk mengangkat tumor akan dilakukan apabila obat-obatan tersebut di atas tidak terbukti efektif dalam mengatasi hiperprolaktinemia. Selain itu, operasi dibutuhkan apabila tumor memengaruhi kemampuan melihat seseorang. Jika obat-obatan dan operasi tidak efektif, meskipun kondisi ini jarang terjadi, radiasi untuk memperkecil tumor dapat dilakukan.

Biasanya, hiperprolaktinemia dapat dirawat dan diobati. Jenis perawatan akan bergantung pada apa yang menyebabkan pengeluaran prolactin berlebih. Apabila Anda memiliki tumor, operasi untuk mengangkat tumor tersebut dapat dilakukan guna mengembalikan kelenjar pituitary pada kondisi yang normal.

Read More
Penyakit

Gejala dan Jenis Artritis Psoriatika

Artritis psoriatika (PsA) merupakan sebuah kondisi yang mengkombinasikan persendian nyeri dan bengkak dengan psoriasis. Psoriasis biasanya menyebabkan bercak merah gatal muncul di kulit dan kulit kepala. Sekitar 7,5 juta warga Amerika memiliki psoriasis, dan 30 persen di antaranya menderita artritis psoriatika. Artritis psoriatika dapat bersifat ringan atau parah, dan dapat melibatkan banyak persendian. Artikel ini akan membahas gejala dan jenis-jenis artritis psoriatika. 

Gejala PsA

Gejala artritis psoriatika (PsA) berbeda-beda dari satu orang ke orang yang lain. Gejala tersebut dapat bersifat ringan hingga parah. Terkadang, kondisi Anda berkurang dan Anda akan merasa lebih baik untuk sementara waktu. Namun, di waktu lain, gejala dapat berubah menjadi lebih parah. Gejala yang Anda alami juga sangat bergantung pada jenis artritis psoriatika apa yang Anda miliki, namun gejala umum PsA di antaranya adalah sendi yang bengkak dan lembut di satu atau kedua sisi tubuh; kaku di pagi hari; jari tangan dan kaki yang bengkak; nyeri otot dan tendon; bercak kulit yang bersisik, yang dapat bertambah parah saat persendian kambuh; kulit kepala bersisik; mata memerah; dan mata sakit (uveitis).

Jenis-jenis artritis psoriatika

Ada lima jenis artritis psoriatika, yaitu:

  • PsA simetris

Jenis ini memengaruhi sendi yang sama pada kedua sisi tubuh, contohnya pada kedua lutut kanan dan kiri. Gejala yang dirasakan sama dengan rheumatoid arthritis (RA). PsA simetris cenderung bersifat lebih ringan dan menyebabkan sedikit deformitas sendi dibandingkan dengan RA. Akan tetapi, PsA simetris juga dapat mengganggu pergerakan. Sekitar setengah dari orang-orang yang menderita PsA memiliki PsA jenis ini. 

  • PsA asimetris

Jenis ini memengaruhi satu atau lebih persendian di satu sisi tubuh. Persendian Anda dapat terasa nyeri dan berubah warna menjadi merah. PsA asimetris umumnya bersifat ringan, dan memengaruhi sekitar 35 persen dari orang-orang yang memiliki artritis psoriatika

  • Distal interphalangeal predominant PsA

Jenis ini melibatkan persendian yang paling dekat dengan kuku Anda, yang dikenal dengan sendi distal. PsA jenis ini terjadi pada 10 persen orang-orang penderita artritis psoriatika. 

  • Spondylitis PsA

PsA jenis ini melibatkan tulang punggung. Seluruh bagian tulang punggung, mulai dari leher hingga punggung bawah, dapat terkena kondisi ini. Hal ini dapat menyebabkan bergerak menjadi sebuah aktivitas yang menyakitkan. Tangan, kaki, dan panggul juga dapat terkena kondisi ini. 

  • Artritis psoriatika mutilans

Ini merupakan PsA jenis cacat dan parah. Sekitar 5 persen orang-orang yang menderita PsA memiliki jenis ini. Artritis psoriatika mutilans biasanya memengaruhi tangan dan kaki. Kondisi ini juga dapat menyebabkan rasa nyeri pada leher dan punggung bawah. 

Dalam kasus artritis psoriatika, sistem kekebalan tubuh Anda menyerang persendian dan kulit. Dokter belum tahu benar apa yang menyebabkan serangan tersebut, namun mereka berteori bahwa hal ini disebabkan karena kombinasi antara faktor genetik dan lingkungan. PsA merupakan penyakit bawaan. Sekitar 40 persen orang-orang yang memiliki kondisi ini juga memiliki relatif atau anggota keluarga yang menderita PsA. Sesuatu di lingkungan biasanya memicu penyakit bagi mereka yang memiliki tendensi mengembangkan PsA, entah itu virus, stres yang ekstrim, ataupun cidera fisik. Harapan pulih dari PsA berbeda-beda, tergantung seberapa parah kondisi yang Anda miliki. Semakin parah PsA, semakin sulit bagi Anda untuk bergerak. Untuk meningkatkan harapan tersebut, ikuti rencana perawatan yang dokter rekomendasikan.

Read More

Gejala Penyakit TORCH yang Perlu Anda Ketahui

Penyakit TORCH merupakan beberapa jenis infeksi yang dapat membahayakan ibu hamil dan janin dalam kandungan

Masa kehamilan adalah masa yang paling ditunggu oleh setiap pasangan. Ayah dan ibu harus sabar menanti selama sembilan bulan untuk melihat si kecil lahir ke dunia.

Namun, masa kehamilan juga merupakan masa yang paling berat. Selama masa kehamilan, kekebalan tubuh menjadi lemah sehingga ibu hamil mudah terserang penyakit dan infeksi.

Penyakit TORCH merupakan salah satu infeksi yang dapat menyerang ibu hamil. TORCH merupakan akronim dari lima infeksi yaitu toksoplasma, rubella, cytomegalovirus (CMV), herpes, dan berbagai infeksi lainnya.

Ibu yang terkena infeksi TORCH kemungkinan besar akan mempengaruhi bayi dalam kandungan. Bayi yang terinfeksi dapat mengalami cacat lahir seperti masalah saraf dan kebutaan. 

Bagaimana bayi dapat tertular penyakit TORCH?

Karena bayi belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang baik, ia belum bisa melindungi diri dari infeksi dan penyakit. 

Ibu yang terkena penyakit TORCH dapat menularkan janinnya melalui darah atau cairan tubuh. Untungnya, kondisi ini bisa ditangani bila Anda segera melakukan pemeriksaan TORCH.

Plasenta juga menjadi media penularan lainnya. Meskipun kesehatan ibu tidak terlalu berisiko, penyakit TORCH sangat mempengaruhi kesehatan bayi, bahkan bisa menyebabkan keguguran. 

Gejala penyakit TORCH yang harus diketahui

Gejala infeksi TORCH bisa berbeda karena penyakit ini merupakan gabungan dari beberapa infeksi. Namun Anda bisa mewaspadai gejala umum dari penyakit ini, antara lain:

  • Penyakit kuning.
  • Demam dan kehilangan nafsu makan.
  • Pembesaran limpa dan hati.
  • Flu.
  • Petechiae atau ruam berwarna merah keunguan pada kulit. 

Jika Anda mengalami salah satu atau lebih gejala di atas, ada baiknya untuk segera menemui dokter. Sampaikan keluhan Anda secara jujur agar dokter dapat memberikan perawatan yang sesuai.

Anda juga disarankan untuk melakukan pemeriksaan TORCH sejak awal merencanakan kehamilan. Jika pada kunjungan pranatal Anda dicurigai mengalami infeksi, Anda akan diminta untuk melakukan screening infeksi melalui cek darah. 

Pemeriksaan yang dilakukan sedini mungkin dapat meminimalisir sebanyak mungkin risiko yang dapat diterima oleh bayi. Bahkan Anda harus tetap memantau perkembangan bayi Anda, terutama jika hasilnya positif.

Nantinya, perawatan yang diberikan bisa berbeda tergantung virus yang menginfeksi. Umumnya dokter akan memberikan obat minum seperti antivirus atau analgesik ringan untuk mencegah bayi ikut tertular.

Mencegah infeksi penyakit TORCH pada kehamilan

Berikut ini tindakan pencegahan yang bisa dilakukan untuk mencegah Anda dari infeksi TORCH:

  • Cuci tangan sebelum dan sesudah makan menggunakan sabun dan air mengalir.
  • Hindari mengonsumsi daging mentah. Pastikan untuk memasak daging hingga benar-benar matang.
  • Jaga kebersihan di lingkungan sekitar Anda.
  • Minimalisir kontak langsung dengan kucing dan anjing liar untuk mencegah toksoplasmosis. Jika Anda memiliki hewan peliharaan, pastikan untuk menjaganya tetap bersih dan sehat. Anda bisa mengurungnya di dalam rumah, atau menaruhnya di luar dan dilarang untuk memasuki rumah.
  • Jangan bertukar barang dengan orang lain seperti sisir, pisau cukur, dan barang-barang personal lainnya.
  • Hindari membuat tato atau melakukan tindik selama masa kehamilan.
  • Meminimalisir konsumsi cokelat, kacang tanah, dan selai kacang karena dapat memicu herpes genital. 
  • Lakukan manajemen stres. Stres dapat mempengaruhi kesehatan fisik sekaligus menurunkan kekebalan tubuh.

Masa kehamilan adalah masa yang membahagiakan sekaligus masa yang paling berat. Ibu dituntut untuk tetap sehat demi kesehatan janin dalam kandungan Anda.

Jika Anda positif terinfeksi penyakit TORCH, jangan panik. Percayalah bahwa dengan penanganan medis yang tepat, infeksi penyakit TORCH dapat ditangani. Konsistenlah melakukan perawatan dan jangan pernah melewatkan janji konsultasi dengan dokter. 

Bagaimanapun, tetaplah tenang dan nikmati masa kehamilan Anda. Jangan biarkan infeksi ini membuat Anda stres dan berdampak pada bayi Anda.

Read More
Penyakit

Jangan Panik, Ini Cara Mengatasi Kejang yang Perlu Anda Ketahui

Kejang adalah gangguan aktivitas listrik di otak. Kondisi ini sering kali ditandai oleh gerakan tubuh yang tidak terkendali dan disertai hilangnya kesadaran. Kejang bisa menjadi tanda adanya penyakit pada otak, atau kondisi lain yang memengaruhi fungsi otak. Ada banyak mitor atau tradisi yang biasanya dilakukan saat menolong seseorang yang mengalami kejang. Padahal, belum tentu semuanya benar. Membekali diri dengan pengetahuan tentang cara mengatasi kejang sangat penting, seperti jangan memasukaan apapun ke dalam mulut pasien.

Syarat utamanya adalah jangan panik ketika melihat orang di sekitar mengalami kejang. Sebagian besar kejang tidak akan berlangsung lama, bahkan ada yang hanya berlangsung sekitar 20 detik seperti petit mal pada anak-anak. Berteriak atau mengguncang tubuh orang kejang juga tidak perlu dilakukan karena justru tidak membantu.

Cara mengatasi kejang yang tepat

Saat melihat ada orang yang mengalami kejang, tugas orang yang berada di sekitarnya adalah memastikan tida ada risiko terjadi cedera atau masalah serius lainnya. Tahapan cara mengatasi kejang yang tepat sesuai arahan National Institute of Neurological Disorders and Stroke adalah:

  1. Gulingkan orang yang kejang ke satu sisi untuk menghindari risiko tersedak air liur
  2. Beri alas di kepala orang yang kejang
  3. Longgarkan kerah baju sehingga bisa bernapas lebih leluasa
  4. Pengang rahang perlahan dan arahkan kepala mendongak agar jalur pernapasan terbuka
  5. Jangan menahan gerakan orang yang sedang kejang, kecuali lokasi kejadian cukup berbahaya seperti di pinggir kolam atau tangga.
  6. Jangan masukkan benda apapun ke mulut (obat, benda padat, air) karena berisiko menyebabkan tersedak. Orang yang kejang bisa menggigit lidahnya sendiri adalah mitos.
  7. Jauhkan benda tajan di sekitar orang yang kejang
  8. Hitung durasi terjadinya kejang, gejalanya, kemudian sampaikan kepada tenaga medis saat sudah tiba.
  9. Tetap berada di samping orang yang mengalami kejang hingga mereda
  10. Tetap tenang
  11. Jangan berteriak atau mengguncangkan tubuh orang yang mengalami kejang karena tidak akan membantu apa pun.
  12. Minta orang di sekitar untuk memberikan ruang dan tidak menonton kejadian.
  13. Setelah kejang reda, tanyakan butuh bantuan apa atau siapa yang perlu dihubungi.

Kejang atau epilepsi terjadi karena ada masalah pada aktivitas otak. Ada banyak sekali jenis kejang, gejala utamanya adalah gerakan repetitif yang tidak terduga. Pada kejang klasik, istilah medisnya adalah generalized tonic-clonic seizure.Selain itu, kejang juga bisa terjadi berulang meski tanpa ada pemicu. Jenis pemicunya bisa karena terpapar zat beracun, trauma di kepala, atau konsumsi obat berbahaya.

Sebagian besar orang yang mengalami kejang tahu betul kondisi yang mereka alami. Ada yang rutin mengonsumsi obat untuk mengendalikan gejala atau menjalani terapi diet tertentu.

Terlepas dari apakah kejang yang dialami seseorang perlu mendapatkan penanganan medis darurat atau tidak, catat gejala yang terjadi dan durasinya. Apabila kejang terjadi saat berada di jalanan atau lingkungan yang berbahaya, sebisa mungkin jauhkan orang yang mengalaminya dari tempat itu.

Read More

8 Fakta Mengejutkan tentang Leukemia Limfobatik

Leukimia atau kanker darah putih sudah populer di telinga banyak orang. Penyakit ini disebabkan oleh produksi sel darah putih yang terlampau banyak di dalam tubuh sehingga membuat perannya menjadi kebalikan. Seharusnya, sel darah putih mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi, jumlahnya yang berlebihan justru memicu gangguan dan peradangan parah dalam tubuh. Namun ternyata leukemia ada banyak jenis, loh. Salah satunya adalah leukemia limfobatik.

Sama seperti leukemia pada umumnya, leukimia limfobatik membuat produksi sel darah putih dalam tubuh meningkat tajam. Tidak hanya menciptakan sel darah putih yang matang, adanya sel kanker ini juga membuat munculnya sel-sel darah putih yang tidak matang yang membuat kondisi tubuh semakin tidak baik. Parahnya lagi, leukemia limfobatik termasuk jenis kanker agresif yang tingkat pertumbuhan selnya amat cepat.

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai jenis leukemia tersebut. Beberapa di antaranya mungkin membuat Anda tercengang karena nyatanya leukemia limfobatik tidak bisa disamakan dengan leukemia biasa!

Sasar Anak-anak dan Lansia

Umumnya, sel kanker akan lebih agresif ketika diderita oleh orang-orang berusia produktif. Namun nyatanya untuk leukemia limfobatik, anak-anak dan orang tua berusia di atas 50 tahunlah yang paling rentan terkena penyakit ini karena sel kanker melaju sangat kencang. Sekitar 60 persen penderita leukemia limfobatik ternyata merupakan anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Produktif Turun Risiko

Jika penyakit kanker pada umumnya rentang menyerang usia produktif, berbeda dengan leukemia limfobatik. Menurut American Cancer Society, orang-orang berusia 20 tahun ke atas yang masuk ke dalam kategori produktif nyatanya memiliki risiko yang lebih rentan untuk terserang penyakit ini.

Pria Lebih Rentan

Jika dilihat dari statistic penderita, ternyata pasien leukemia limfobatik lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan. Namun, belum diketahui secara pasti mengenai penyebab lebih rentan pria terkena penyakit ini dibandingkan wanita.

Risiko Orang Kulit Putih

Menurut penelitian, orang-orang berkulit putih lebih mudah terkena leukemia limfobatik dibandingkan orang-orang berkulit hitam. Secara lebih rinci penelitian tersebut menyebutkan, ras Kaukasoid yang menetap di dataran Eropa , Amerika Utara, dan Selandia Baru menjadi sasaran empuk penyakit yang satu ini.

Gejala Datar

Banyak orang tidak menyadari sedang mengidap leukemia limfobatik. Alasannya karena gejala dari jenis penyakit ini tampak datar. Beberapa gejala umum bahkan hanya terlihat seperti keringat yang berlebihan serta sakit pada tulang. Alhasil ketika akhirnya pasien tersebut diperiksa secara lebih terperinci, leukemia limfobatik yang diidapnya sudah memasuki tahap akut.

Tidak Mesti Perawatan

Leukemia limfobatik merupakan jenis kanker yang agresif. Akan tetapi uniknya, justru tidak banyak dokter yang menyarankan pengobatan khusus untuk penderitanya. Orang-orang yang terkena leukemia limfobatik hanya disarankan melakukan kontrol agar pergerakan kankernya terpantau terus oleh tim medis. Perawatan baru diberikan ketika pasien yang bersangkutan sudah memiliki tingkat keparahan sel yang memasuki kronis.

Simalakama Kemoterapi

Penderita kanker umumnya dirujuk untuk melakukan kemoterapi guna bisa membunuh sel kanker yang menjadi sumber penyakit. Namun, hal tersebut menjadi sulit bagi penderita leukemia limfobatik. Soalnya ketika kemoterapi dijalankan, sel-sel darah putih yang sehat, yang berfungsi untuk pertahanan tubuh, juga bisa ikut musnah.

Terpengaruh Sindrom Turunan

Leukemia limfobatik sebenarnya bukan merupakan jenis penyakit turunan. Namun, beberapa kondisi genetik turunan yang menyebabkan kondisi tertentu bisa memicu lebih rentannya orang tersebut terkena jenis leukemia yang satu ini. Contoh sindrom turunan yang bisa menjadi risiko leukemia limfobatik, seperti down syndrome juga anemia fanconi.

Dengan mempertimbangkan berbagai fakta di atas, tidak ada salahnya melakukan pengecekan kesehatan tubuh secara menyeluruh dalam waktu rutin. Tujuannya jelas, apabila ada indikasi leukemia limfobatik, tim medis bisa segera menanganinya.

Read More
Penyakit

Ketahui, 4 Dampak Buruk Pedofilia terhadap Anak!

Pedofilia adalah suatu gangguan atau kelainan seksual pada orang dewasa terhadap anak-anak yang belum mengalami pubertas. Kondisi penyimpangan seksual ini merupakan kasus yang paling sering terjadi hingga dibawa ke pengadilan. Pedofilia telah dicap sebagai kejahatan pada anak, karena memberikan dampak buruk bagi korban. Lebih parahnya, banyak kasus pedofilia dilakukan oleh pelaku dengan karakter lembut dan terlihat seperti orang normal pada umumnya. Akibatnya, banyak Ibu yang tidak bisa mengenali pelaku pedofil di luar sana.

Mengenal jenis pedofilia.

Para psikiater sepakat menganggap pedofilia sebagai gangguan mental, bukan preferensi seksual. Bahkan, di banyak negara, pedofilia dikategorikan sebagai kasus pidana, termasuk Indonesia. Secara umum, pedofilia dibagi menjadi dua jenis sesuai dengan jenis kelamin korbannya.

  1. Pedofilia heteroseksual, yaitu pelaku pedofilia yang memiliki objek sasarannya dengan jenis kelamin yang berbeda.
  2. Pedofilia homoseksual, yaitu pelaku pedofilia yang sasaran objek seksualnya dengan jenis kelamin yang sama.

Menurut Teddy Hidayat, dokter spesialis kejiwaan dari Rumah Sakit Hasan Sadikin, pedofilia dibagi menjadi tiga jenis, yaitu :

  1. Immature pedophiles, yaitu pelaku cenderung melakukan pendekatan kepada sasarannya yang masih anak-anak. Contohnya pada kasus Emon yang mengiming-imingi korbannya sebelum beraksi. Biasanya, orang dengan tipe ini kurang dapat bergaul dengan orang dewasa.
  2. Regressed pedophiles, yaitu pemilik kelainan seksual yang sudah memiliki istri, namun dijadikan sebagai kedok penyimpangan seksual. Tidak jarang, pasangan seperti ini memiliki masalah seksual dalam rumah tangganya.
  3. Agressive pedophiles, yaitu pelaku cenderung anti-sosial terhadap lingkungannya. Biasanya, punya keinginan menyerang hingga membunuh, setelah menikmati korban. Contoh kasusnya adalah Robot Gedek.

Dampak anak yang mengalami kekerasan seksual.

Menurut Seto Mulyadi, ahli kejiwaan anak, korban pedofilia akan memiliki rasa percaya diri yang kurang dan pandangan negatif terhadap seksual. Pedofilia adalah bentuk penyiksaan pada anak yang mengakibatkan depresi, trauma, dan gelisah. Secara umum, dampak buruk yang dapat terjadi pada anak dalam jangka panjang adalah sebagai berikut.

  1. Perilaku.
    • Suka berbuah mendadak, misalnya dari bahagia ke depresi, dari bersahabat ke menyendiri, dari komunikatif ke pendiam.
    • Mengalami gangguan tidur, seperti sulit tidur, terjaga dalam waktu yang cukup lama, dan bermimpi buruk.
    • Takut dan atau menghindar dari orang-orang tertentu, kabur dari rumah, jadi nakal, atau suka bolos sekolah.
  2. Kognitif.
    • Sulit konsentrasi dan suka melamun.
    • Hilangnya minta untuk belajar ke sekolah.
    • Reaksi berlebihan saat ada orang yang tiba-tiba mendekat.
  3. Sosial dan emosional.
    • Kurang percaya diri dan merasa tidak dihargai.
    • Mengisolasi diri dari luar, termasuk teman-teman sekitar.
    • Sering merasa cemas berlebihan dan sulit mempercayai orang lain.
  4. Fisik.
    • Terdapat luka di area alat kelamin, bahkan bisa mengidap penyakit kelamin.
    • Sering merasa sakit yang tidak jelas, seperti sakit kepala dan sakit perut.
    • Berat badan menurun, karena nafsu makan berkurang dan sering muntah.

Dampak buruk dari korban pedofilia bergantung pada kepribadian, cara mengatasi masalah, cara memanipulasi kognisi, serta dukungan sosial yang diberikan untuk korban. Meskipun dampak yang dialami berbeda-beda, sebagian besar korban akan mengalami efek traumatis yang ikut memengaruhi perilakunya sehari-hari atau Post Traumatic Stress Disorder (PTSD).

Catatan

Anak-anak yang mengalami kekerasan seksual sudah seharusnya dilindungi. Bahkan, pada anak yang kondisi psikisnya semakin memburuk, perlu dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang tepat. Selain itu, pelaku penyimpangan seksual perlu diberikan penanganan berupa terapi untuk membantu mengatasi gangguan pedofilia yang dialami.

Read More

Apa itu Angioedema? Berikut Penjelasannya

Angioedema adalah bentuk reaksi alergi pada kulit atau membran mukosa. Kondisi ini menyebabkan pembengkakan pada lapisan kulit bagian dalam.

Kondisi bengkak yang muncul karena reaksi alergi disebut dengan angioedema, meskipun pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan bekas setelah penyembuhan. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa menyebabkan para penderitanya sulit bernapas karena munculnya pembengkakan yang terjadi di saluran pernapasan manusia.

Kondisi bengkak yang muncul karena reaksi alergi disebut dengan angioedema, meskipun pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan bekas setelah penyembuhan.. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa menyebabkan para penderitanya sulit bernapas karena munculnya pembengkakan yang terjadi di saluran pernapasan manusia.

Dalam beberapa kasus, penderita penyakit ini juga mengalami urtikaria atau juga disebut dengan biduran. Kedua kondisi ini memang terlihat sama, yang membedakan pada penyakit ini adalah terjadi di lapisan bawah kulit. Sementara, bengkak pada biduran muncul dan terjadi di permukaan kulit manusia.

Gejala Angioedema

Gejala utama yang muncul pada seseorang penderita penyakit ini adalah bengkak yang muncul di bawah permukaan kulit. Munculnya pembengkakan ini disebabkan karena adanya penumpukan cairan di lapisan kulit bagian dalam, selain itu juga bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh lain seperti area sekitar mata, lidah, tangan, kaki dan kelamin.

Dalam kasus yang sudah parah, pembengkakan ini juga bisa terjadi pada bagian dalam tenggorokan dan perut. Kondisi yang muncul biasanya tidak menimbulkan gatal, namun pada kondisi idiopathic dan allergic, bengkak yang muncul akan disertai dengan biduran atau urtikaria yang menjadi penyebab munculnya rasa gatal, berikut beberapa gejala lain yang bisa muncul.

  • Merasakan sensasi panas dan nyeri, tepat pada area yang mengalami pembengkakan.
  • Mengalami sesak napas, yang diakibatkan karena pembengkakan di tenggorokan dan paru-paru.
  • Kondisi mata memerah, hal ini diakibatkan karena adanya pembengkakan di konjungtiva.

Jenis Angioedema

  • Allergic

Seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini disebabkan karena alergi terhadap beberapa bahan tertentu, seperti makanan terutama kacang, kerang, susu dan telur. Kemudian alergi obat, seperti antibiotik, aspirin dan antiinflamasi nonsteroid. Lalu alergi terhadap gigitan serangga, seperti lebah dan alergi pada lateks atau sejenis karet bahan sarung tangan karet.

  • Drug-Induced

Kondisi pembengkakan ini muncul karena seseorang menggunakan obat tertentu meskipun tidak memiliki alergi obat. Bengkak yang muncul biasanya sesaat setelah penggunaan obat, tetapi juga bisa muncul dalam beberapa bulan hingga tahun setelah penggunaan obat. 

Beberapa jenis obat penyebab kondisi ini seperti obat antiinflamasi nonsteroid, obat hipertensi golongan ACE seperti ramipril, perindopril dan lisinopril, serta obat hipertensi golongan ARB seperti valstartan, losartan dan irbesartan.

  • Hereditary

Pembengkakan jenis ini disebabkan karena seseorang kekurangan protein penghambat C1-esterase di dalam darah. Protein ini berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh, jika seseorang kekurangan protein ini maka sistem imun akan berbalik menyerang tubuh dan menimbulkan gejala pembengkakan.

Kondisi ini disebabkan beberapa hal yang berhubungan dengan perilaku seseorang, seperti mengalami depresi atau stres, kemudian akibat prosedur bedah atau perawatan gigi, penggunaan pil KB, kehamilan hingga seseorang mengalami cedera atau infeksi. Namun, seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini berisiko menurunkan penyakit ini ke anaknya.

  • Idiopathic

Terlepas dari faktor yang dijelaskan di atas, sebagian besar kasus angioedema tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, para ahli memiliki dugaan bahwa kondisi tersebut muncul karena adanya gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Beberapa penyebab yang membuat munculnya idiopathic adalah seperti stres, mengenakan pakaian berat dan olahraga terlalu berat.

Selain itu, cuaca atau iklim yang terlalu panas juga bisa menjadi penyebab munculnya pembengkakan tersebut. Tak hanya itu, konsumsi alkohol, kafein dan makanan pedas serta kondisi medis seperti lupus atau limfoma meski sangat jarang bisa menjadi penyebab munculnya idiopathic ini.

Kondisi bengkak yang muncul karena reaksi alergi disebut dengan angioedema, meskipun pada umumnya tidak berbahaya dan tidak menimbulkan bekas setelah penyembuhan.. Dalam kasus yang jarang terjadi, kondisi ini bisa menyebabkan para penderitanya sulit bernapas karena munculnya pembengkakan yang terjadi di saluran pernapasan manusia.

Dalam beberapa kasus, penderita penyakit ini juga mengalami urtikaria atau juga disebut dengan biduran. Kedua kondisi ini memang terlihat sama, yang membedakan pada penyakit ini adalah terjadi di lapisan bawah kulit. Sementara, bengkak pada biduran muncul dan terjadi di permukaan kulit manusia.

Gejala Angioedema

Gejala utama yang muncul pada seseorang penderita penyakit ini adalah bengkak yang muncul di bawah permukaan kulit. Munculnya pembengkakan ini disebabkan karena adanya penumpukan cairan di lapisan kulit bagian dalam, selain itu juga bisa terjadi pada beberapa bagian tubuh lain seperti area sekitar mata, lidah, tangan, kaki dan kelamin.

Dalam kasus yang sudah parah, pembengkakan ini juga bisa terjadi pada bagian dalam tenggorokan dan perut. Kondisi yang muncul biasanya tidak menimbulkan gatal, namun pada kondisi idiopathic dan allergic, bengkak yang muncul akan disertai dengan biduran atau urtikaria yang menjadi penyebab munculnya rasa gatal, berikut beberapa gejala lain yang bisa muncul.

  • Merasakan sensasi panas dan nyeri, tepat pada area yang mengalami pembengkakan.
  • Mengalami sesak napas, yang diakibatkan karena pembengkakan di tenggorokan dan paru-paru.
  • Kondisi mata memerah, hal ini diakibatkan karena adanya pembengkakan di konjungtiva.

Jenis Angioedema

  • Allergic

Seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini disebabkan karena alergi terhadap beberapa bahan tertentu, seperti makanan terutama kacang, kerang, susu dan telur. Kemudian alergi obat, seperti antibiotik, aspirin dan antiinflamasi nonsteroid. Lalu alergi terhadap gigitan serangga, seperti lebah dan alergi pada lateks atau sejenis karet bahan sarung tangan karet.

  • Drug-Induced

Kondisi pembengkakan ini muncul karena seseorang menggunakan obat tertentu meskipun tidak memiliki alergi obat. Bengkak yang muncul biasanya sesaat setelah penggunaan obat, tetapi juga bisa muncul dalam beberapa bulan hingga tahun setelah penggunaan obat. 

Beberapa jenis obat penyebab kondisi ini seperti obat antiinflamasi nonsteroid, obat hipertensi golongan ACE seperti ramipril, perindopril dan lisinopril, serta obat hipertensi golongan ARB seperti valstartan, losartan dan irbesartan.

  • Hereditary

Pembengkakan jenis ini disebabkan karena seseorang kekurangan protein penghambat C1-esterase di dalam darah. Protein ini berperan penting dalam menjaga sistem kekebalan tubuh, jika seseorang kekurangan protein ini maka sistem imun akan berbalik menyerang tubuh dan menimbulkan gejala pembengkakan.

Kondisi ini disebabkan beberapa hal yang berhubungan dengan perilaku seseorang, seperti mengalami depresi atau stres, kemudian akibat prosedur bedah atau perawatan gigi, penggunaan pil KB, kehamilan hingga seseorang mengalami cedera atau infeksi. Namun, seseorang yang mengalami pembengkakan jenis ini berisiko menurunkan penyakit ini ke anaknya.

  • Idiophatic

Terlepas dari faktor yang dijelaskan di atas, sebagian besar kasus angioedema tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, para ahli memiliki dugaan bahwa kondisi tersebut muncul karena adany gangguan pada sistem kekebalan tubuh. Beberapa penyebab yang membuat munculnya idiophatic adalah seperti stres, mengenakan pakaian berat dan olahraga terlalu berat.

Selain itu, cuaca atau iklim yang terlalu panas juga bisa menjadi penyebab munculnya pembengkakan tersebut. Tak hanya itu, konsumsi alkohol, kafein dan makanan pedas serta kondisi medis seperti lupus atau limfoma meski sangat jarang bisa menjadi penyebab munculnya idiophatic ini.

Read More

Bahan Alami untuk Mengatasi Limfadenitis Tanpa Efek Samping

Limfadenitis disebabkan oleh infeksi bakteri, jamur, dan virus, yang mengakibatkan pembengkakan kelenjar getah bening.

Kelenjar getah bening di dalam tubuh manusia berfungsi sebagai penyaring sesuatu yang “berbahaya” bagi tubuh, mulai dari bakteri, virus, hingga jamur. Kelenjar getah bening termasuk ke dalam rangkaian sistem kekebalan tubuh kita. Namun, beberapa kondisi dapat menyebabkan fungsi kelenjar itu terganggu. Salah satunya adalah limfadenitis.

Limfadenitis merupakan istilah medis untuk menyebut peradangan atau pembengkakan di kelenjar getah bening. Pembengkakan itu terjadi karena infeksi. Selain itu, respons kelenjar getah bening terhadap penyakit, stres, atau infeksi juga dapat membuatnya membengkak.

Mengingat begitu pentingnya fungsi dan peran kelenjar getah bening dalam mekanisme tubuh kita, menjaganya tetap sehat adalah suatu keharusan. Banyak upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari atau mengatasi limfadenitis, salah satunya dengan bahan-bahan alami yang berkhasiat, seperti:

  • Vitamin C 

Vitamin C dapat membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh untuk melawan infeksi. Vitamin C juga mengurangi kemungkinan mengembangkan komplikasi dari infeksi, seperti limfadenitis. Sebab kelenjar getah bening yang membengkak adalah tanda infeksi yang sudah ada dalam tubuh. Anda bisa mendapat asupan vitamin C melalui makanan seperti nanas, kangkung, jeruk bali, stroberi, jeruk dan pepaya. 

  • Madu Manuka 

Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pasifik Asia untuk Biomedis Tropis, madu manuka menunjukkan aktivitas bakterisidal yang signifikan terhadap bakteri resisten antibiotik yang menyebabkan infeksi serius. Para peneliti berpendapat karena madu manuka dan madu mentah, memiliki tingkat pH rendah dan kadar gula yang tinggi, maka dapat menghambat pertumbuhan mikroba. 

Madu manuka khususnya dapat menghentikan pertumbuhan bakteri di seluruh tubuh dan membantu mengobati infeksi bakteri yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. Carilah Madu Manuka yang memiliki peringkat UMF10 atau lebih tinggi. Peringkat ini menjamin bahwa madu memiliki aktivitas antibakteri yang signifikan dan diakui oleh perusahaan berlisensi di Selandia Baru. Peringkat UMF sebenarnya menguji kinerja antibakteri madu dan membandingkannya dengan fenol, desinfektan.

  • Bawang putih 

Studi menunjukkan bahwa bawang putih mentah, khususnya senyawa kimia yang ditemukan dalam bawang putih seperti allicin, sangat efektif membunuh mikroorganisme yang tak terhitung jumlahnya. Antimikroba, antivirus, dan antijamur yang terdapat di bawang putih dapat membantu meredakan infeksi yang menyebabkan limfadenitis. 

Cara mengkonsumsi bawang putih; hancurkan dan makan 2 hingga 3 siung bawang putih mentah setiap hari sampai infeksi hilang. Memotong bawang putih juga mengaktifkan enzim allinase di dalam sel bawang putih, yang menghasilkan allicin yang membantu mengobati infeksi. 

  • Minyak Oregano 

Sebuah studi pada tahun 2016 yang diterbitkan dalam Frontiers in Microbiology menunjukkan bahwa minyak oregano memiliki aktivitas antibakteri yang kuat terhadap beberapa strain bakteri yang kebal antibiotik. Minyak oregano menunjukkan efek bakterisidal terhadap 17 strain yang diuji. Minyak oregano juga efektif melawan infeksi virus dan jamur. 

Manfaat minyak oregano lebih baik dari antibiotik resep. Sebab menggunakan minyak oregano untuk mengobati infeksi cenderung tidak memiliki efek samping yang berbahaya, dibandingkan dengan antibiotik. Untuk mengobati infeksi yang menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening, minumlah minyak oregano dengan mengencerkan terlebih dahulu menggunakan air atau campur dengan minyak kelapa.

  • Cuka apel 

Asam asetat dalam cuka apel memiliki kemampuan unik untuk membunuh bakteri berbahaya dan mendorong pertumbuhan bakteri menguntungkan. Hal ini menjadikan cuka apel sebagai antibiotik alami yang membantu mengobati infeksi dan meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Cuka apel dapat digunakan sebagai tonik limfatik yang membantu mendetoksifikasi tubuh dan meningkatkan drainase limfatik. 

Ini akan membantu kelenjar getah bening untuk melindungi tubuh terhadap penyakit dan melawan bakteri. Untuk mengobati infeksi yang dapat menyebabkan gejala limfadenitis, ambil 2 sendok makan cuka apel dalam satu gelas air tiga kali sehari. Dapat pula dengan merendam kain cuci bersih dalam cuka apel dan mengoleskannya ke kelenjar getah bening yang meradang. 

  • Kompres dengan air dingin 

Mengompres dengan air dingin ke area yang meradang dapat membantu mengurangi rasa sakit dan pembengkakan. Lakukan selama 10 hingga 15 menit beberapa kali sehari sampai pembengkakan berkurang. Menambahkan 1 hingga 2 tetes minyak pohon teh ke kompres juga akan membantu melawan infeksi yang menyebabkan limfadenitis.

Enam bahan dan cara mengobati limfadenitis secara alami di atas tentu bisa dipertimbangkan pada saat-saat pandemi sekarang. Mendatangi rumah sakit tentu amat berisiko. Namun, bukan berarti gejala yang Anda rasakan boleh dibiarkan begitu saja, kan?

Jika setelah mencoba seluruh bahan di atas, tetapi limfadenitis yang Anda rasakan tak kunjung membaik, barulah segera rujuk diri Anda ke dokter atau fasilitas kesehatan demi mendapatkan pertolongan medis yang lebih intensif.

Read More