Penyakit

Agar Tidak Salah Penanganan, Pahami Perbedaan Fakta dan Mitos Mengenai Sembelit

Sembelit atau konstipasi merupakan masalah pencernaan yang sangat umum terjadi. Tidak heran jika banyak sekali asumsi mengenai penyebab, penanganan, dan pencegahan sembelit yang tersebar di masyarakat. Namun, Anda perlu lebih waspada dalam membedakan yang mana informasi fakta, dan mana yang hanya berupa mitos.

Mitos Sembelit

1. Buang Air Besar Seharusnya Setiap Hari
Perlu dipahami bahwa setiap orang memiliki metabolisme dan kerja organ tubuh yang berbeda. Itulah sebabnya frekuensi buang air besar seseorang tidak akan sama dengan orang lain. Beberapa di antara mereka ada yang terbiasa buang air tiga kali sehari atau bahkan tiga kali seminggu. Anda sendiri yang mengetahui bagaimana frekuensi buang air besar normal yang biasa Anda lakukan. Namun, jika sembelit terjadi, biasanya frekuensi akan semakin berkurang dan ada rasa tidak nyaman di perut.

2. Sembelit Dapat Menjadi Racun
Beberapa orang percaya bahwa sembelit menyebabkan tubuh menyerap zat beracun dalam tinja yang menyebabkan penyakit seperti radang sendi, asma, hingga kanker usus besar. Hal ini adalah mitos, sebab tidak ada bukti yang mengungkap bahwa feses dapat menghasilkan racun. Perlu dipahami pula, sembelit atau konstipasi itu sendiri bukan penyakit, melainkan masalah pencernaan.

3. Sembelit Hanya Membutuhkan Banyak Serat
Memang benar bahwa kebanyakan orang yang mengalami susah buang air besar akan dianjurkan untuk makan lebih banyak sayuran, buah-buahan, biji-bijian, dan makanan nabati lainnya. Tidak heran jika seseorang yang sembelit akan menambahkan serat pada kombinasi makanannya secara bertahap. Namun, jika sembelit masih belum juga terselesaikan, mungkin ada alasan lain yang menjadi penyebab sembelit seperti kondisi medis atau efek samping dari beberapa obat.

4. Semua Serat Memiliki Manfaat Sama
Ada dua macam serat yang harus Anda ketahui, yaitu serat yang larut dan serat yang tidak larut. Serat yang tidak larut akan menambah jumlah kotoran pada tinja dan membantu melewati usus Anda lebih cepat. Contoh serat ini berasal dari roti gandum, pasta, dan sereal. Sedangkan, serat yang larut larut dalam air dapat berupa kacang-kacangan dan beberapa makanan nabati lainnya.

5. Menahan Buang Air Besar Tidak Akan Berbahaya
Apakah Anda merasa terlalu sibuk untuk sekedar menyempatkan diri ke toilet? Mengabaikan dorongan dan keinginan buang air besar dapat membuat Anda secara fisik tidak nyaman dan berisiko menyebabkan atau memperburuk sembelit. Jadi, jangan pernah mengabaikan rasa dan dorongan untuk buang air besar kapan pun Anda merasakannya.

6. Minum Kopi Adalah Solusi yang Baik
Kafein memang dapat berperan dalam merangsang otot-otot sistem pencernaan untuk berkontraksi dan menyebabkan buang air besar. Namun, kafein memiliki efek samping membuat tubuh menjadi dehidrasi. Itulah sebabnya kopi sangat tidak disarankan bagi Anda yang sedang sembelit.

Fakta Sembelit

1. Permen Karet yang Tertelan Bisa Menghambat
Jika Anda pernah dilarang untuk menelan permen karet karena khawatir menempel dan menghambat di lambung atau usus, hal ini dapat menjadi benar adanya. Pasalnya, beberapa kasus orang yang menelan permen karet dalam jumlah besar atau banyak mengalami hambatan dalam saluran pencernaan. Penyumbatan ini yang nantinya dapat menyebabkan sembelit. Meskipun begitu, sesekali menelan permen karet tidak akan terlalu berbahaya karena dapat dikeluarkan sebagaimana makanan lainnya.

2. Liburan Dapat Menimbulkan Masalah
Melakukan sebuah perjalanan dapat mengubah rutinitas dan diet harian Anda. Saat Anda pergi, perbanyaklah minum air dan pastikan tubuh bisa tetap aktif bergerak. Hal ini penting untuk mencegah sembelit terjadi selama perjalanan. Selain itu, sering-seringlah melakukan peregangan, batasi konsumsi alkohol dan kafein, serta perbanyak asupan buah dan sayur. Jangan terlalu bergantung pada makanan cepat saji.

3. Sembelit Karena Perubahan Mood

Depresi dapat memicu sembelit atau bahkan memperburuknya. Mengurangi stres melalui meditasi, yoga, biofeedback, dan teknik relaksasi dapat membantu Anda mengatasinya. Akupresur atau pijat shiatsu juga cukup direkomendasikan. Anda dapat memijat perut Anda untuk melemaskan otot-otot dan mendukung usus dalam bekerja.

4. Obat-obatan Dapat Menjadi Penyebab
Sebagian obat pereda rasa sakit, depresi, tekanan darah tinggi, dan penyakit Parkinson dapat memberikan efek samping berupa sembelit atau konstipasi. Selain itu, suplemen kalsium dan zat besi juga berdampak pada susah buang air besar. Jika ini terjadi pada Anda lakukan konsultasi pada dokter untuk mendapat arahan mengenai penggunaan obat yang tepat.

5. Minum Lebih Banyak Air Akan Membantu
Tidak hanya serat, banyak minum air putih juga dapat membuat tinja Anda lunak dan meredakan sembelit. Anda bisa mendapatkannya dari minuman atau beragam makanan yang kaya air, seperti buah-buahan dan sayuran. Batasi atau hindari asupan kafein dan alkohol, yang dapat menyebabkan dehidrasi.

6. Latihan Fisik Meredakan Sembelit
Jangan biarkan tubuh Anda terlalu lama duduk dan berdiam diri. Bergeraklah dan lakukan aktivitas fisik seperti olahraga dan senam. Dengan begitu, kerja organ dalam tubuh juga akan semakin lancar, termasuk di dalamnya pencernaan.

Read More
Penyakit

Atasi Diare dengan Memahami Pemicu dan Pengobatan Diare Ini

Anda pernah merasakan kram perut yang diikuti oleh keinginan kuat untuk buang air besar, kemudian keinginan buang air besar terjadi berulang lebih dari 3 kali dalam sehari? Bisa dipastikan Anda mengalami diare. Diare umum terjadi sebanyak dua tahun sekali dalam periode waktu 1-2 hari setiap mengalaminya. Namun, jika diare yang Anda alami berlangsung selama berminggu-minggu, Anda perlu mewaspadai kondisi kesehatan tertentu pada tubuh Anda. Itulah sebabnya, Anda akan disarankan untuk segera melakukan konsultasi ke dokter untuk perawatan yang tepat.

Pemicu Diare

Dari sekian banyak penyebab diare, ada beberapa hal yang umum mengakibatkan masalah pencernaan ini terjadi, di antaranya adalah karena asupan makanan, minuman, atau obat-obatan tertentu, seperti:

1. Produk Susu

Salah satu intoleransi makanan yang paling umum yang berisiko menyebabkan diare kronis adalah intoleransi laktosa. Jika Anda mengalami diare kronis, hentikan segera asupan produk susu untuk dapat meredakan keluhan diare Anda.

2. Makanan dengan Kandungan Gluten

Selain susu, gluten juga dapat menyebabkan diare terjadi pada sebagian orang. Bagi sebagian orang yang memiliki sensitivitas terhadap gluten, makanan ini dapat menyebabkan kembung dan diare.

3. Makanan Berminyak dan Berlemak

Makanan berminyak dan berlemak adalah pemicu yang mungkin menyebabkan diare terjadi pada sebagian orang. Makanan dengan kandungan minyak dan lemak tinggi dapat memperlambat pengosongan lambung, sehingga membuat orang merasa kembung. Selain itu, makanan seperti ini juga dapat mengencangkan otot-otot di saluran pencernaan Anda. Akibatnya, Anda akan mengalami diare.

4. Kopi dan Alkohol

Tidak hanya itu, hindari pula asupan minuman dengan kandungan alkohol dan kafein. Keduanya dapat menyebabkan kotoran menjadi lebih cair. Jika Anda sering mengalami diare, cobalah untuk menghentikan asupan kopi di pagi hari atau bir di malam hari. Cara ini dapat meredakan gejala diare yang Anda rasakan, khususnya jika Anda mengonsumsinya dengan jumlah yang cukup banyak.

5. Beberapa Obat-obatan

Bahkan, selain makanan dan minuman, obat-obatan juga berisiko memberikan efek samping berupa diare, seperti:

  • Obat pencahar
  • Antasida
  • Obat yang mengandung magnesium
  • NSAID (seperti aspirin dan ibuprofen)

Itulah sebabnya, jika Anda menderita sakit yang kronis, Anda mungkin juga akan mengalami diare kronis juga akibat asupan obat tertentu.

Selain dari makanan dan minuman, hal lain yang juga dapat berisiko menyebabkan diare adalah infeksi penyakit. Beberapa penyakit yang berisiko menyebabkan diare, misalnya:

  • Irritable bowel syndrome (IBS)
  • Penyakit Crohn
  • Kolitis ulserativa
  • Diabetes

Jika Anda menderita IBS, stres yang disebabkannya dapat memperburuk diare. Perubahan obat-obatan dan pengaturan gaya hidup sehat dapat membantu mengurangi gejala yang mengganggu.

Diabetes juga dapat menjadi pemicu diare yang kerap mengejutkan orang. Pasalnya, diabetes dapat mempengaruhi saraf ke usus. Itulah sebabnya, diabetes kronis pada beberapa orang dapat menyebabkan diare kronis. Rekomendasi terbaik untuk membantu menangani keluhan adalah dengan melakukan kontrol diabetes yang lebih baik dan teratur.

Tidak hanya itu, perawatan untuk penyakit kanker juga dapat menyebabkan diare, khususnya pada penanganan kemoterapi dan radiasi. Dalam hal ini, kemo dapat menyebabkan efek samping berupa gangguan atau kerusakan pada lapisan saluran pencernaan.

Pengobatan Diare
Jika Anda mengalami diare selama 2 minggu atau lebih, segera konsultasikan diri Anda pada dokter. Apabila Anda mendapatkan ada darah pada kotoran, demam, atau penurunan berat badan yang tidak direncanakan, Anda harus langsung memeriksakan diri lebih cepat.

Dokter akan menggunakan riwayat medis Anda untuk mengetahui penyebabnya. Ia juga dapat melakukan pemeriksaan darah atau tinja Anda. Selanjutnya, Anda mungkin akan diberi resep obat yang digunakan untuk keluhan diare pada umumnya.

Selama Anda tidak menderita penyakit Crohn atau radang usus besar, Anda mungkin dapat mengurangi keluhan diare dengan menambahkan asupan serat ke dalam makanan Anda. Serat bekerja untuk memberi konsistensi pada kotoran.

Read More