8 Fakta Mengejutkan tentang Leukemia Limfobatik

Leukimia atau kanker darah putih sudah populer di telinga banyak orang. Penyakit ini disebabkan oleh produksi sel darah putih yang terlampau banyak di dalam tubuh sehingga membuat perannya menjadi kebalikan. Seharusnya, sel darah putih mampu meningkatkan sistem kekebalan tubuh. Akan tetapi, jumlahnya yang berlebihan justru memicu gangguan dan peradangan parah dalam tubuh. Namun ternyata leukemia ada banyak jenis, loh. Salah satunya adalah leukemia limfobatik.

Sama seperti leukemia pada umumnya, leukimia limfobatik membuat produksi sel darah putih dalam tubuh meningkat tajam. Tidak hanya menciptakan sel darah putih yang matang, adanya sel kanker ini juga membuat munculnya sel-sel darah putih yang tidak matang yang membuat kondisi tubuh semakin tidak baik. Parahnya lagi, leukemia limfobatik termasuk jenis kanker agresif yang tingkat pertumbuhan selnya amat cepat.

Berikut ini adalah beberapa fakta mengenai jenis leukemia tersebut. Beberapa di antaranya mungkin membuat Anda tercengang karena nyatanya leukemia limfobatik tidak bisa disamakan dengan leukemia biasa!

Sasar Anak-anak dan Lansia

Umumnya, sel kanker akan lebih agresif ketika diderita oleh orang-orang berusia produktif. Namun nyatanya untuk leukemia limfobatik, anak-anak dan orang tua berusia di atas 50 tahunlah yang paling rentan terkena penyakit ini karena sel kanker melaju sangat kencang. Sekitar 60 persen penderita leukemia limfobatik ternyata merupakan anak-anak di bawah usia 5 tahun.

Produktif Turun Risiko

Jika penyakit kanker pada umumnya rentang menyerang usia produktif, berbeda dengan leukemia limfobatik. Menurut American Cancer Society, orang-orang berusia 20 tahun ke atas yang masuk ke dalam kategori produktif nyatanya memiliki risiko yang lebih rentan untuk terserang penyakit ini.

Pria Lebih Rentan

Jika dilihat dari statistic penderita, ternyata pasien leukemia limfobatik lebih banyak yang berjenis kelamin laki-laki dibandingkan perempuan. Namun, belum diketahui secara pasti mengenai penyebab lebih rentan pria terkena penyakit ini dibandingkan wanita.

Risiko Orang Kulit Putih

Menurut penelitian, orang-orang berkulit putih lebih mudah terkena leukemia limfobatik dibandingkan orang-orang berkulit hitam. Secara lebih rinci penelitian tersebut menyebutkan, ras Kaukasoid yang menetap di dataran Eropa , Amerika Utara, dan Selandia Baru menjadi sasaran empuk penyakit yang satu ini.

Gejala Datar

Banyak orang tidak menyadari sedang mengidap leukemia limfobatik. Alasannya karena gejala dari jenis penyakit ini tampak datar. Beberapa gejala umum bahkan hanya terlihat seperti keringat yang berlebihan serta sakit pada tulang. Alhasil ketika akhirnya pasien tersebut diperiksa secara lebih terperinci, leukemia limfobatik yang diidapnya sudah memasuki tahap akut.

Tidak Mesti Perawatan

Leukemia limfobatik merupakan jenis kanker yang agresif. Akan tetapi uniknya, justru tidak banyak dokter yang menyarankan pengobatan khusus untuk penderitanya. Orang-orang yang terkena leukemia limfobatik hanya disarankan melakukan kontrol agar pergerakan kankernya terpantau terus oleh tim medis. Perawatan baru diberikan ketika pasien yang bersangkutan sudah memiliki tingkat keparahan sel yang memasuki kronis.

Simalakama Kemoterapi

Penderita kanker umumnya dirujuk untuk melakukan kemoterapi guna bisa membunuh sel kanker yang menjadi sumber penyakit. Namun, hal tersebut menjadi sulit bagi penderita leukemia limfobatik. Soalnya ketika kemoterapi dijalankan, sel-sel darah putih yang sehat, yang berfungsi untuk pertahanan tubuh, juga bisa ikut musnah.

Terpengaruh Sindrom Turunan

Leukemia limfobatik sebenarnya bukan merupakan jenis penyakit turunan. Namun, beberapa kondisi genetik turunan yang menyebabkan kondisi tertentu bisa memicu lebih rentannya orang tersebut terkena jenis leukemia yang satu ini. Contoh sindrom turunan yang bisa menjadi risiko leukemia limfobatik, seperti down syndrome juga anemia fanconi.

Dengan mempertimbangkan berbagai fakta di atas, tidak ada salahnya melakukan pengecekan kesehatan tubuh secara menyeluruh dalam waktu rutin. Tujuannya jelas, apabila ada indikasi leukemia limfobatik, tim medis bisa segera menanganinya.

Read More

Kanker Lidah: Bagaimana Cara Mengatasinya?

Salah satu jenis penyakit kanker yang diderita oleh manusia adalah kanker lidah. Kanker lidah merupakan penyakit dimana sel-sel kanker memicu dan menyebar ke seluruh lidah yang dilalui secara bertahap.

Kanker lidah terjadi di dua tempat, antara lain di ujung lidah dan di pangkal lidah. Kanker lidah bisa dideteksi ketika menyebar ke kelenjar getah bening di bagian leher. Kanker lidah pada umumnya terjadi pada orang dewasa, namun orang yang berusia lebih dari 40 tahun memiliki risiko lebih tinggi terhadap kanker lidah.

Tahap Kanker Lidah

Sel kanker berupa tumor berperan dalam menyerang lidah sehingga manusia merasa kesulitan untuk menggerakan mulut. Kanker lidah terdiri dari 4 tahap, antara lain:

  1. Tahap pertama

Tahap ini terjadi dari bagian depan lidah dimana tumor mulai dibentuk dan ukuran awal mencapai 2 cm.

  • Tahap kedua

Tahap kedua terjadi ketika tumor tumbuh antara 2 hingga 4 cm.

  • Tahap ketiga

Tahap ketiga terjadi ketika tumor tumbuh lebih dari 4 cm.

  • Tahap keempat

Tahap keempat terjadi ketika tumor berukuran lebih dari 4 cm, namun bervariasi. Selain itu, sel-sel kanker mencapai getah bening.

Gejala

Gejala yang ditimbulkan oleh kanker lidah beragam. Gejala tersebut antara lain:

  • Bercak merah atau putih pada lidah.
  • Benjolan atau luka pada lidah.
  • Rasa nyeri di bagian lidah.
  • Suara serak.
  • Sakit tenggorokan.
  • Penebalan pada lapisan mulut.
  • Kesulitan dalam menggerakan rahang.
  • Rasa sakit pada bagian leher dan telinga.

Penyebab

Kanker lidah terjadi karena kebiasaan manusia sehari-hari, antara lain:

  • Merokok.
  • Minuman beralkohol.
  • Kurangnya perawatan pada bagian mulut berupa gigi dan gusi.
  • Penyakit keturunan.
  • Infeksi human papillomavirus (HPV).
  • Paparan kimia seperti asam sulfat.
  • Kurangnya nutrisi pada tubuh.
  • Daya tahan tubuh yang lemah.

Diagnosis

Sebelum menentukan cara untuk mengatasi kanker lidah, Anda sebaiknya melakukan diagnosis jika terindikasi penyakit tersebut atau tidak. Pemeriksaan yang bisa dilakukan antara lain:

  1. Pemeriksaan fisik

Pemeriksaan fisik perlu dilakukan dengan teliti dari mulut hingga tenggorokan. Anda bisa langsung konsultasikan atau minta pemeriksaan fisik dengan dokter spesialis telinga, hidung, dan tenggorokan (THT).

  • Tes pencitraan

Tes pencitraan bisa dilakukan untuk mengetahui seberapa parah penyakit kanker lidah yang tersebar pada tubuh manusia. Tes pencitraan meliputi CT scan dan MRI.

  • Biopsi

Biopsi dapat dilakukan dengan dua cara, antara lain biopsi sikat atau biopsi jaringan. Biopsi sikat dilakukan dengan menyikat bagian lidah yang terindikasi sel kanker. Biopsi jaringan meliputi pemotongan tumor di bagian lidah.

Perawatan

Setelah melakukan diagnosis, dokter akan menyarankan perawatan apa yang tepat untuk dijalani. Contohnya bisa dengan operasi, namun ini bergantung pada seberapa parah atau banyaknya tumor yang ada di bagian lidah. Selain itu, cara lain yang bisa dilakukan dengan sebagai berikut:

  1. Radioterapi

Radioterapi meliputi sinar X-ray untuk membunuh sel kanker. Perawatan melalui radioterapi biasanya berlangsung selama beberapa minggu.

  • Kemoterapi

Kemoterapi berperan dalam menghancurkan kanker dengan sitotoksik. Beberapa orang menjalankan perawatan ini untuk mengecilkan kanker.

  • Obat kanker

Salah satu obat yang tepat untuk mencegah kanker adalah obat imunoterapi. Obat tersebut tidak hanya melawan sel-sel kanker, namun juga merangsang sistem kekebalan tubuh.

Pencegahan

Selain perawatan di atas, Anda juga perlu ubah gaya hidup agar mencegah terjadinya kanker lidah. Pola gaya hidup yang bisa Anda lakukan antara lain:

  • Perbanyak minum air mineral untuk mencegah dehidrasi dan kanker lidah. Jangan konsumsi minuman beralkohol secara berlebihan.
  • Ubah kebiasaan merokok dengan pola hidup yang sehat seperti berolahraga.
  • Anda sebaiknya secara rutin menjaga kebersihan mulut dengan menggosok gigi dan pakai obat kumur bila perlu.
Read More